Minggu, 26 April 2009

Resume Buku : THE ASIAN MIND GAME (Strategi berpikir orang Asia – Menyingkap Agenda Tersembunyi dari Budaya Bisnis) oleh Cing Ning Chu

Buku ini, yang ditulis oleh seorang konsultan pemasaran dunia Timur-Barat Chin Ning Chu, merupakan bacaan wajib bagi orang Barat yang berhubungan atau bernegosiasi dengan dunia Timur baik dalam Bisnis, pemerintahan maupun akademik.

Ini adalah buku pertama yang membuka tabir rahasia terdalam dari pola pikir Asia yang mempengaruhi perilaku mereka dalam bisnis, politik, gaya hidup dan pertempuran. Chu menggaris bawahi bahwa strategi berpikir Asia sudah sedemikian rumit dan halusnya selama berabad-abad, sehingga orang Amerika jarang sekali menyadari bahwa orang Asia melihat pasar – secara luas juga seluruh dunia sebagai suatu medan perang dan bertindak sesuai dengan persepsi mereka tersebut.

Dalam buku ini Chu menyoroti prinsip-prinsip teks kuno Cina yang mendasari negosiasi yang sukses, yang telah mempengaruhi seluruh Asia dan memberi para pembaca contoh pengaplikasian prinsip tersebut dalam dunia modern.

Dalam dunia Barat, kemampuan menyusun suatu strategi yang cerdik dan halus untuk memperoleh keinginan Anda dalam bisnis, politik dan kehidupoan sehari-hari, sering


dianggap muncul dari intuisi saja, namun di Asia berpikir strategis adalah sebuah disiplin formal tersendiri yang dipelajari semua orang dari berbagai latar belakang kehidupan.

Yang luar biasa, seoarang Asia masa kini bisa mendasari pandangan dan peri lakunya dengan ajaran-ajaran kuno. Bahkan di Cina, anak-anakpun sudah belajar menguasai “36 strategi klasik” yang diformulasikan oleh Sun Tzu seorang ahli strategi militer dalam abad ke – 4 SM.

Di Asia dewasa ini para pelaku bisnis maupun tokoh politik mempelajari Seni Perang Sun Tzu serta mengaplikasikan semua strategi tersebut dalam semua aktivitas mereka, sementara orang Amerika membaca buku The one-Minute Manager dan All I Really Need to know, I Learned in Kingdergarten. Tidak mengherankan klau Chu berkomentar bahwa dalam negosiasi bisnis dan politik, orang Cina sering menyebut orang Amerika sebagai “anak-anak yang polos dan tidak berdosa.”

Chu dengan brilian menganalisis bagaimana pola pikir dan budaya Cina telah banyak mempengaruhi Jepang, Korea dan Taiwan serta bagaimana ekspansi dan budaya Jepang telah mempengaruhi daerah lainnya di Asia.

Dengan adanya aliasi perdagangan dan politik Amerika yang semakin mendekati dunia Pasifik, memahami pikiran bangsa Asia menjadi sangat penting. Chu, yang dilahirkan di Cina dan di-didik diTaiwan menerjemahkan semua hal yang berkaitan dengan pola pikir Asia yang tidak akan dapat disamai oleh penjelasan orang Barat manapun.


RINGKASAN BAB DEMI BAB

Bab I

Strategi Berpikir, Bagi sebagian orang Barat yang peka terhadap isu rasial, diskusi tentang karakteristik atau ciri beberapa kelompok etnis dan nasional mungkin cenderung rasialis. Konsep Asia mengenai rasialisme sangat berbeda dengan dunia barat. Konsep superioritas dan inferioritas ras tidak pernah dipertanyakan sebagaimana di Barat. Terdapat kepercayaan yang kuat di antara orang-orang Cina, Korea dan Jepang tentang superioritas ras, meskipun hampir semua dari mereka memiliki hubungan darah dari sisi evolusinya. Di Asia konsep bahwa satu orang secara ras lebih superior dari yang lain, hampir secara universal diakui.

Orang Asia tidak sepeka orang Amerika mengenai isu rasial. Isu Rasial tidak terlalu bermuatan emosional bagi mereka. Orang Asia memendang wajar untuk berpikir bahwa ras mereka lebih baik dari yang lain. Orang Barat juga memiliki sikap seperti ini yang disebut secara rendah sebagai chauvisnisme, nasionalisme atau profisial. Tetapi rasialis adalah sebuah kata yang berkonotasi sangat buruk dalam bahasa Inggris, meskipun kata tersebut hanya menggambarkan kelemahan umum manusia untuk meyakini bahwa “milik saya lebih baik daripada milik mu”.

Dan tidaklah sulit memahami mengapa para pengusaha dan politikus Amerika sering frustasi ketika harus berdagang dengan orang Asia. Kadang-kadang orang Amerika berpikir bahwa orang Asing tidak profesional dan tidak konsisten. Kenyataannya orang-orang Asia justru mempelajari dan mematuhi aturan-aturan yang jauh lebih terpola dibanding orang Amerika. Mereka menyimpulkan aturan-aturan tersebut dari perjalanan sejarahnya, lalu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Dimasa yang akan datang peperangan militer akan diganti dengan peperangan ekonomi internasional, masyarakat global telah menyadari bahwa solusi militer tidak praktis dan tidak diperlukan karena membawa kerusakan dan dampak residu persenjataan modern.

Dalam manifestasinya yang paling tinggi, seni Thick Face, Black Heart adalah kekuatan seorang dokter untuk mengamputasi tanpa terpengaruh penderitaan pasien yang memilukan. Ini merupakan kekuatan seorang jenderal untuk mengirim pasukan yang dicintainya menuju kematian. Ini adalah kekauatan seorang pemimpin untuk melakukan apa yang harus dilaksanakan.

Bab II

Bangsa Semut, Sejarah Jepang sebagai negara yang bersatu dimulai pada abad ke –16. Sebelumnya, Jepang adalah kumpulan negara bagian feodal yang tersebar tanpa ada pemerintah pusat yang kuat. Pada abag ke –16, Shogunate Toyomi Hideyoshi mulai menerapkan sistem sentralisasi kekuatan pemerintah Jepang.

Setelah Hideyoshi wafat, Tokugawa Ieyasu membunuh ahli waris Hideyoshi yang masih muda lalu mengangkat dirinya sebagai shogun. Ia mendirikan istana Edo, disebelah Tokyo sebagai pusat pemerintahan Jepang.

Kontak Jepang dengan negara lain diantaranya ditandai dengan adanya kunjungan ke Cina dan ekspedisi dagang ke Okinawa dan Korea secara berkala. Cina merupakan satu-satunya relasi kontak luar Jepang yang signifikan karena buku-buku Cina tidak berisi pemikiran Barat.

Bangsa Jepang mengisolasi diri dalam hal gaya busana> Sampai saat ini mereka masih meyakini bahwa semua yang mereka lakukan dianggap sebagai misi yang suci. Mereka melarang pembuatan kapal besar. Jadi perahu mereka hanya bisa berlayar didalam dan disekeliling wilayah Jepang saja. Mereka melarang penggunaan senjata buatan Barat selama itu dan kembali menggunakan pedang tradisional Jepang. Dengan demikian Jepang berhasil menutup pintunya terhadap dunia selama lebih dari 200 tahun.

Keiretsu juga bisa didefinisikan sebagai sebuah kartel. Keiretsu merupakan suatu keluarga yang terdiri atas bisnis, bank dan badan pemerinatah yang bekerjasama untuk meraih satu tujuan. DI Amerika serikat hubungan yang mirip dilarang oleh lembaga anti trust, tetapi di Jepang mereka justru berkembang secara alami dari hubungan pribadi, politik, keluarga dan feodal yang kompleks dikerajaan Meiji. Keiretsu bukan merupakan fenomena yang sifatnya musiman dalam industri Jepang tetapi mereka adalah unit-unit fundamental ekonomi dan industri Jepang.

Masyarakat Jepang ibarat sebuah sarang semut. Setiap anggotanya memiliki pos dan tugas tertentu untuk melayani koloninya. Seperti layaknya sebuah koloni semut yang lebih kuat daripada sekawanan serangga lain, masyarakat Jepang pun lebih bersifat efisien dibandingkan bangsa lain yang masyarakatnya tidak memiliki keterikatan terhadap tujuan keseluruhan.

Sikap Mulia bangsa Jepang yang sekaligus menjadi kelemahan adalah kerelaan mengorbankan diri demi kepentingan bangsanya. Dalam banyak kasus, setelah lulus dan masuk kedalam perusahaan besar, seorang Jepang muda sudah mengetahui dengan pasti seprrti apa hidupnya nanti./ ketika semua orang bersedia mengorbankan individuisme meraka dan menjadi sebuah kelompok tanpa wajah dan nama yang dipekerjakan untuk satu tujuan, kesenangan ada ditangan para majikan dan pemimpin politik.

Perbedaan antara manusia dan semut adalah bahwa semut hanya tetap menjadi semut, apapun yang terjadi. Mereka tidak dapat menunjukan kepribadian mereka. Beberapa orang Jepang telah terpengaruh budaya Barat dengan menikmati saat pulang segera setelah bekerja, liburan dan menikmati pengekspresian diri dan ambisi pribadi. Tetapi perasaan-perasaan seperti ityu sulit diungkapkan dalam sebuah sarang semut.
Sulit untuk tidak mengagumi tujuan mereka, kemampuan mereka untuk meleburkan kepentingan pribadi kedalam kepentingan yang lebih besar dan perindustrian mereka. Mereka melakukan hal yang paling sederhana dalam aktivitas rutin, tetapi juga mampu mengubahnya menjadi hal luar biasa karena sifat prefesionis yang dimiliki. Tetapi tetap harus di ingat, walaupun kualitas ini dapat menjadikan seseorang sebagai sahabat baik, dipihak lawan kulitas ini sangat berbahaya.

Bangsa Cina dan bangsa-bangsa Asia lainnya percaya bahwa bangsa Jepang memanifestasikan karakter tersebut untuk menghasilakn hal-hal yang positif. Tetapi kita juga mengetahui bahwa bangsa Jepang adalah bangsa yang memiliki sifat kolektif dengan kesamaan tujuan yang kadang-kadang menjadi ancaman bagi tetangganya.

Bab III

Budaya Matriarkat, Untuk memahami bentuk dan birokrasi pemerintah Taiwan,penting dilihat bahwa Republik Cina dianggap sebagai pemerintah nasional seluruh Cina dan semenatara waktu kursi kepemimpinanya dipindahkan karena situasi tertentu. Pemerintah Taiwan meripakan pemerintah daerah propinsi Taiwan. Kota Taipe dan Kaohsiung juga mempunyai pemerintah daerah sendiri secara langsung bertanggung jawab kepada pemerintah pusat dan tidak berada di bawah kekuasaan pemerintah propinsi. Walikota dari kota-kota ini mempunyai wewenang yang sama seperti gubenrnur propinsi Taiwan.

Pada bulan juli 1997, stratwegi untuk menghadapi klaim Cina bahwa Taiwan adalah salah satu propinsi Cina diambil dengan keputusan untuk menggabungkan dua pemerintahan dalam Taiwan, menjadi satu pemerintah Taiwan.

Reunifikasi Cina merupakan masalah yang tampaknya tidak mempunyai penyelesaian hingga saat ini. Akan tetapi, Cina telah berumur 5000 tahun. Dinasti-dinasti telah bangkit, berkembang dan jatuh. Empat puluh tahun merupakan waktu yang tidak seberapa panjangnya dibanding perjalanan sejarah Cina. Masalah ini juga akan selesai dengan sendirinya.

Bab IV

Yang bertahan hidup, Tidak diragukan lagi, ciri khas orang Korea yang membedakan mereka dengan orang Cina, Jepang dan orang Asia lainnya adalah pengendalian emosi. Mereka sering disebut orang Irlandianya Asia. Panasnya tempreramen sama cepatnya dengan keinginan berdamai kembali.

Hanya merekalah orang Asia yang mau memperlihatkan tangisan atau ekspresi kasih sayang dimuka umum. Mereka bertemperamen panas, pencemburu, keras kepala dan mudah tertawa dan kadang-kadang semua sifat diperlihatkabn dalam beberapa menit saja.

Orang Korea sangat menyenangkan. Mereka suka dengan lelucon yang sifatnya fisik. Mereka juga mudah bersosialisasi. Komedia di Korea banyak yang mirip Max Brothers. Orang Korea terkenal karena kecenderungan mereka untuk minum banyak alkhol.

Kekerasan orang Korea dapat mengejutkan mereka yang melakukan bisnis dengan orang Korea. Namun hal ini telah terbukti menjadi karakteristik yang berharga. Bahkan setelah hampir lima puluh tahun penjajahan Jepang, orang Jepang tidak pernah dapat mengalahkan sifat keras kepala orang Korea. Akan tetapi dalam periode yang sama yaitu selama dominasi Taiwan, orang Jepang telah berhasil mengubah perilaku orang Taiawan.

Bab V

Akhir dari permainan, Nilai-nilai budaya Jepang, Korea dan Cina sangat dipengaruhi oleh konsep Ren Qing dalam Confusianisme. Konsep ini dilambangkan dengan karakter tulisan yang sama dalam ketiga bahasa tersebut dan diterjemahkan sebagai “perasaan manusia”. Hal ini mengharuskan adanya unsur kemanusian dalam setiap hubungan antar manusia yaitu adanya sikap saling pengertian dan mengasihi dalam hubungan yang bersifat saling memberi dan menerima antar sesama manusia.

Kehancuran ekonomi Amerika sebenarnya dapat dielakkan. Amerika harus mengerti betapa seriusnya perjuangan. Peristiwa Pearl Harbaour membangkitkan tekad nasional dan keputusan yang keras untuk melaksanakan apapun yang diperlukan untuk menang. Tetapi, tidak akan ada ekonomi terbentuk Pearl Harbaour untuk menyatukan dan memobilisasi pendapat publik. Keputusan yang harus dibuat adalah keputusan yang berat dan secara politis tidak mungkin kecuali ada bahaya yang jelas dan nyata. Jika terdapat tekad nasional untuk menang, Amerika dapat memenangkan perang ekonomi

Bangkitnya tekad nasional inilah yang paling ditakuti Jepang. Sebagai reaksi atas meningkatnya kekawatiran publik Amerika terhadap orang Jepang yang memasuki perekonomian domestik AS, diawal tahun 1990 pemerintah Jepang merumuskan rencana untuk mengatasi kekhawatiran ini. Pemerintah Jepang sangat mendorong perusahaan-perusahaan Jepang yang berbisnis di Amerika serikat agar menjadi “Warga negara yang baik”.

Pemerintah memberikan pajak yang sangat menarik bagiperusahaan Jepang untuk mau memberikan sumbangan lokal dan proyek warga kota di kota-kota Amerika dimana mereka berada. Tentu saja, ini tidak datang dari motivasi rasa kemanusiaan begitu saja. Tetapi lebih sebagai strategi untuk menidurkan kembali si singa ke impian indah dan mewah.


PENUTUP DAN REKOMENDASI

Para pengusaha Barat sering berada dalam posisi yang sangat tidak menguntungkan karena kurang memahami filosofi maupun strategi dunia Timur dengan baik. Buku Chin-ning Chu sangat menarik serta mampu membuka tabir pola berpikir bangsa Asia. Tiap manajer yang menjalankan bisnsinya di Timur jauh atau yang bernegosiasi dengan para eksekutif Asia dapat belajar banyak dari buku ini.

Sebagai penutup laporan bedah buku ini dapat saya sampaikan bahwa buku Chin-ning Chu dapat anda pergunakan sebagai salah satu bahan kajian dan referensi. Dan saya dengan rendah hati merekomendasikan anda untuk melengkapi koleksi buku ilmiah anda dengan buku ini, terima kasih.

Tidak ada komentar: